Kapan Menikah: Menengok Jawaban Sejarah

Oleh: Krida Amalia Husna
(Dosen Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unkhair)
Bagi banyak anak muda di Indonesia, momen reuni keluarga di hari raya sering kali berubah menjadi situasi yang melelahkan mental.
Di sela-sela tawa dan sajian hidangan khas, selalu terselip sebuah pertanyaan pendek yang mengganggu: "Kapan nikah?". Pertanyaan ini bagi generasi terdahulu barangkali dianggap sebagai bentuk perhatian atau basa-basi hangat.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 10 Maret 2026
Namun, bagi generasi hari ini, pertanyaan tersebut adalah beban ekspektasi sosial yang kian hari kian berat untuk dipikul, apalagi dijawab. Persoalan pernikahan di kalangan pemuda pemudi saat ini ternyata bukan sekadar tekanan di meja makan.
Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Statistik Indonesia 2024 mengungkapkan tren yang mengejutkan: jumlah pernikahan di Indonesia pada tahun 2023 hanya mencapai 1,57 juta pasangan.
Angka ini merupakan titik terendah dalam satu dekade terakhir. Jika ditarik garis lebih panjang, angka pernikahan nasional telah menyusut hampir 28,6% sejak tahun 2013 yang kala itu masih mencatat angka di atas 2,2 juta pernikahan.
Menurunnya angka pernikahan sering kali dituding secara dangkal sebagai ketidaksiapan Gen Z dan Millennials dalam membangun komitmen dan hidup mandiri.
Padahal, sejarah memberikan kita cermin yang lebih jernih: kita sedang menyaksikan dejavu sosiologis dari hampir satu abad silam, di mana tekanan ekonomi dan kegamangan identitas bertemu hingga dalam satu titik melumpuhkan keberanian untuk berumah tangga.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar