Dialektika Pradigma Manusia dari Postmoderen ke POS-TRUTD

Sayangnya, modernisasi telah dipaksakan kepada kita, bangsa non-Eropa, dengan bungkusan peradaban. Selama masa 150 tahun yang lalu barat telah menjalankan tugas “momoderenkan” manusia dengan semangat misionaris.
Semua bangsa non-Eropa ditempakan dalam hubungan yang rapat dengan barat dan peradaban barat, serta akan diubah menjadi bangsa-bangsa “modern”.
Dengan kedok “memperadabankan” bangsa-bangsa, menyertai mereka dengan kebudayaan, mereka menghadiakan “modernitas” kepada kita (apabila saya katakan “kita”, maksud saya adalah bangsa non-Eropa dan bangsa-bangsa di dunia ketiga), yang terus-menerus mereka katakana “peradaban” ideal” ini.
Seharusnnya kaum intelektual kita telah memahaminya bertahun-tahun yang lalu dan menjadikan rakya sadar akan perbedaan antara peradaban dan modernitas. (Ali Syari’ati).
Kesimpulan
Bahwa pada dasarnya karakter masyarakat dan budaya modern itu berbeda-beda, tak dapat kita terima. Namun yang tak dapat dinafikkan adalah bahwa bentuk dan kualitas masyarakat budaya modern memang beragam.
Sekarang pertanyaanya adalah:. Bagaimana masa depan masyarakat manusia?. Akankah budaya dan peradaban ini, dan masyarakat serta nasionalitas ini, selalu mempertahankan posisinya yang ada?.
Ataukah manusia akan menuju kepada satu budaya, satu peradaban dan satu masyarakat, dan akankah semua masyarakat kelak nanti berpadu menjadi satu?
Pertanyan ini bergantung pada pertanyaan tentang karakter masyarakat dan hubungan antara semnagat individual dan semangat kolektif. (*)




Komentar