Dialektika Pradigma Manusia dari Postmoderen ke POS-TRUTD

Sulfan Kiye

Kedua kategori ini memiliki kerangka rujukan yang sama, dan cara berfikir yang sama. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di antara 400 pelajar 75% memusuhi a priori wacana pemikiran islamis dan menganggap syari’ah sebagai satu-satunya jalan keluar bagi masalah-masalah sekarang ini.

Responden yang sama lebih mengutamakan pendidikan, menentang hubungan seks di luar perkawinan dan menganggap bahwa penghormatan terhadap agama tidak dengan sendirinya mengandung penolakan terhadap kemajuan teknik.

Ide bahwa isamisme adalah sebuah konsekuensi langsung dari proses modernisasi perlu pertimbangan lebih jauh, islamisme bisa ditafsirkan sebagai respons pada sebuah persoalan tertentu yang lambat laun memerlukan mobilitas social dan relokalisasi dalam sebuah lingkungan dalam skala global.

Seperti dijelaskan oleh Griddens, kita memasuki sebuah fase akut dari modernitas, dengan memutuskan hubungan dengan pokok-pokok referensi yang menentramkan hati yang di tawarkan oleh tradisi.

Tanda-tanda lahiriah fase ini adalah urbanisasi yang pesat, kehadiran sekolah massal, sebuah pernyataan terhadap sebuah strata social dan tuntutan terhadap mobilitas social dan ruang.

Namun, gerakan yang berkembang cepat ini menyebabkan terhapusnya hubungan-hubungan social dari konteks interaksi local dan penyusunan kembali terhadap bidang spasio-temporal yang belum jelas.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...