Dialektika Pradigma Manusia dari Postmoderen ke POS-TRUTD

Mungkin terbukti memuaskan, tetapi kenyataanya bahwa penjelasan ini mengunci kita dalam sebuah evaluasi negatif terhadap penafsiran.
Konsep tradisionalisasi memiliki batas-batas tertentu yang didalamnya karya politik bahkan ideologi dari kelompok-kelompok baru terlibat dalam menciptkan dan menafsirkan tradisi, dengan sebuah pandangan untuk menyesuaikan dengan modernitas dan meligitimasi serangan-serangan dari sebuah generasi baru.
Wacana para pemimpin, yang menujukkan sebuah pencarian yang tidak berpihak tentang tradisi original, mungkin menipu dan membutakan kita terhadap aspek-aspek yang sangat modern dari proses membangun kembali identitas ini.
Kita mungkin mengabaikan keragamaan dan perbedaan penafsiran dan hubungan yang erat antara penafsiran dengan perkembangan sejarah dan politik di masing-masing Negara.
Selama dua puluh tahun beberapa gerakan islamis menjaga jarak dengan kerangka rujukan tradisional. Qubt, Mauludi, al- Ghazali, Syatibi, dan Ibn Taymiyyah adalah teladan dari pemahaman ini.
Sekarang kaum islamis mewakilikan pada ideolog-ideolog mereka sendiri untuk menegosiasikan kepentingan mereka sendiri dan memastikan bahwa gerakan ini secara tegas berakar pada modernitas.
Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1980-an jelas menujukan bahwa garis prmisah antara kaum islamis dan anak muda yang lain hanyalah komitmen militan mereka.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar