Dialektika Pradigma Manusia dari Postmoderen ke POS-TRUTD

Sebab sesuda peristiwa itu, segala yang rendah, lemah, celaka,jelek, dan menderita malah disebut “baik”, sedangkan yang luhur angung, berdaulat, bagus, malah disebut “jahat”.
Di sini, moralitas Kristen , yakni moralitas budak, membantinkan dan mengarahkannya ke dalam. Jadi, kalau dulu tuan mengarahkan kekuasannya ke luar, kepada budaknya, sekarang orang Kristen menemukan apa yang disebut “suara hati” atau subjektivitas moral.
Nietzsche kemudian mrnganggap, bahwa “suara hati” tak kurang daripada suatu kegagalan melampiaskan ressentiment kepada kasta aristokrasi, dan sekarang berbalik ke dalam menjadi bisiskan hati yang selalu menegur.
Sementara islamisme merupakan sebuah kerangka rujukan di bawa konstruksi, isi doktrinalnya jauh dari sempurna. Selama dua puluh tahun banyak perubahan yang terjadi dalam korpus islamisme.
Ideologi di dalam korpus ini mengambil dari beberapa sumber untuk memberikan kepada kaum militan sebuah archetype terpadu yang meliputi semua sektor kehidupan.
Di balik ketidaksamaan bahasa yang digunakan, ada sebuah ikantan dari susunan praktis yang cocok dengan situasi yang berbeda dan kemampuan yang berbeda dari para pelaku yang terlibat.
Namun demikian, pendekatan yang merakukan ini menawarkan sebuah prospek yang paling baik untuk memberikan kerangka structural untuk membangun kembali sebuat identitas. Penjelasan terhadap fenomena ini dengan pengertian tradisionalisme melalu sebuah ekses modernitas.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar