Hikmah Ramadan
Ramadan adalah Bulan Madrasah

Puasa bukan sekadar latihan menahan lapar, tetapi latihan merasakan penderitaan orang lain. Dengan merasakan lapar, manusia diingatkan bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan setiap hari.
Karena itu, keberhasilan Ramadan tidak hanya diukur dari seberapa banyak ibadah yang kita lakukan, tetapi juga dari seberapa besar perubahan sikap sosial yang lahir setelahnya.
Jika setelah Ramadan kita menjadi pribadi yang lebih peduli, lebih jujur, dan lebih adil terhadap sesama, maka madrasah Ramadhan telah berhasil mendidik kita. Ramadan akan selalu datang setiap tahun, tetapi tidak semua orang mampu mengambil pelajaran darinya.
Hanya mereka yang memaknai Ramadan sebagai madrasah kehidupan yang akan keluar dari bulan suci ini dengan jiwa yang lebih bersih dan hati yang lebih peka terhadap realitas sosial di sekitarnya.
Di tengah dinamika masyarakat Maluku Utara hari ini, Ramadan seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat spiritualitas sekaligus membangun solidaritas sosial.
Sebab pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang ibadah kepada Tuhan, tetapi juga tentang tanggung jawab kemanusiaan kepada sesama.
Jika madrasah Ramadan benar-benar kita hayati, maka setelah bulan suci ini berlalu, yang tersisa bukan hanya kenangan ibadah, tetapi juga perubahan sikap dan komitmen untuk membangun masyarakat yang lebih adil, lebih peduli, dan lebih bermartabat. (*)




Komentar