(Geothermal Jangan Sampai Lolos)

Gereja Ayam, Padi Ladang dan Telaga Ranu

Tiklas Pileser Babua

Asal Muasal Nama “Gamsungi”

Di era Hindia-Belanda, tepatnya Pada tahun 1820 daratan Halmahera merupakan Wilayah kerja kekuasaan Belanda, pada tahun ini pula Dous dikenal dengan sebutan Talaga Rano yang artinya Air Obat, diambil dari bahasa Suku Sahu (Padusua).

Dalam selang waktu yang cukup lama, terjadi perpindahan Kampung Talaga Rano dengan nama Tagallala dan berpindah lagi dengan nama menjadi Gam Naga. Tahun 1912, penduduk Gam Naga eksodus ke wilayah Gemente (Hamente) dengan nama Desa Gamsungi.

Nama Desa Gamsungi diambil dari dua suku kata yang berasal dari Bahasa Sahu yaitu, GAM (Kampung) SUNGI (Baru) yang artinya Kampung Baru.

Desa Gamsungi merupakan Desa Agraris, karena kehidupan masyarakat masih melekat dengan cara bercocok tanam padi (Padi Ladang).

Tanaman padi merupakan tanaman unggulan untuk kelangsungan hidup bagi masyarakat Desa Gamsungi dan cukup kental dengan Adat Istiadat Sahu Dan di lengkapi dengan Rumah Adat (Sasadu).

Pada tahun 1912, para pemimpin di Kampung atau Desa disebut sebagai Nyira dalam bahasa Suku Sahu. Nyira merupakan jabatan tertinggi dan sangat dihargai oleh masyarakat, sekarang dikenal dengan sebutan Kepala Desa.

Ada beberapa nama Pemimipin Kampung pada waktu itu, antara lain: Nyira Buka (tidak diketahui tahun), Nyira Huko (tidak diketahui tahun) Nyira Mara (tidak diketahui tahun), Nyira Haji (tidak diketahui tahun), Nyira Ishak Beno (1960-1965), Nyira Ngoko (1965-1979), Kepala Desa Ishak Beno (1979-1991), Kepala Desa Nohc Molle (1991-2006), Kepala Desa Paulus Suwatalbessy (2006-2018), Plt. Kepala Desa Albert Bassay (2018), Kepala Desa Karlos Bungajawa, S.Pd (2019-Sekarang).

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Komentar

Loading...