(Geothermal Jangan Sampai Lolos)

Gereja Ayam, Padi Ladang dan Telaga Ranu

Tiklas Pileser Babua

Eksodus dari Loloda Kudu Ruba Ua (Loloda Bakun) ke Talaga Rano dikarenakan ada satu tradisi yang dilakukan oleh Raja Kanjoe (Raja Loloda).

Ketika melakukan makan - makan adat atau di kenal dalam Bahasa Sahu adalah Orom Sasadu diharuskan ada satu anak yang dikorbankan menjadi ‘Alas Anak Magori’ di kaki Tiang Rumah Adat.

Dari tradisi yang dianggap menyimpang itulah kemudian eksodus dari Loloda Bakun untuk mendiami Talaga Rano.

Disamping itu juga, sempat terlibat Peperangan Gamkonora sehingga pada akhirnya mengharuskan komunitas ini berhijrah ke Talaga Rano. (Sumber: Wawancara Tetua Adat, Karel Tjiawa)

Dalam perjalanan dan kehidupan sehari-hari di Gam Woun (Kampung Ofu/Lebah), terdepat dua ekor anjing dengan nama Spipo (Taraudu) dan Bo'oca (Loloda) yang di temukan di Taga Ra'du.

Dari dua ekor anjing itulah yang menyematkan bahwa ada dua kelompok yang mendiami Talaga Rano dan menetap sebagai penduduk asli Talaga Rano. (Sumber: Wawancara Tetua Adat, Karel Tjiawa)

Berselang waktu, Gam Woun ini dipimpin oleh Kapita yang dikenal dengan Nama Suwatalbessy, kemudian Kapita yang menjaga muara air sungai di kenal dengan Kapita Hukum Tua dan Hukum Biji. Sementara itu, marga asli dari talaga rano ialah Latar Besa, Kudu Ruba Ua, Tal'adi Bessy, dan Suwatalbessy.

Selain kehidupan yang dipimpin oleh Kapita, di Gam Woun juga terdapat Rumah Adat pertama yang dinamakan Rumah Adat Gusuwong Pangota (Rumah Adat Gamsungi) dan Ngale Gusuwong (Rumah Adat Taraudu). (Sumber: Wawancara Tetua Adat, Karel Tjiawa)

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Komentar

Loading...