(Geothermal Jangan Sampai Lolos)
Gereja Ayam, Padi Ladang dan Telaga Ranu

Sebelum mengenal agama formal seperti Kristen atau Islam, orang Sahu memiliki sistem keyakinan tradisional yang menempatkan unsur-unsur alam sebagai medium relasi spiritual. Salah satu simbol penting dalam memori kolektif tersebut adalah tempat peribadatan yang disebut “Gereja Ayam”.
Istilah “Gereja Ayam” tidak merujuk pada bangunan fisik sebagaimana gereja dalam pengertian modern. Ia adalah sebuah pohon besar dengan akar menjulang ke bawah yang menyerupai jari ayam, tiga cabang akar utama yang mencuat kuat dari batang dan menancap ke tanah.
Bentuk akar inilah yang melahirkan penamaan simbolik tersebut. Pohon besar itu menjadi ruang sakral, tempat masyarakat berkumpul untuk memanjatkan doa, menyampaikan harapan, serta melakukan ritus-ritus adat sebelum hadirnya agama-agama dunia dalam kehidupan mereka.
Secara antropologis, fenomena “Gereja Ayam” menunjukkan bahwa spiritualitas masyarakat Sahu berakar pada penghormatan terhadap alam sebagai manifestasi kekuatan transenden.
Pohon besar bukan disembah sebagai objek material, melainkan dipahami sebagai perantara simbolik antara manusia dan Yang Ilahi.
Eksodus “Gam Woun” Catatan Singkat Masyarakat Telaga Ranu
Asal muasal Marga yang mendiami Talaga Rano di mulai pada abad ke-16 atau pada Tahun 1512 ketika Portugis mulai mendarat di Kepulauan Maluku.
Lebih tepatnya di Ternate yang di pimpin oleh tokoh penting dalam ekspedisi rempah seperti, Antonio de Abreu atas kepercayaan Gubernur Jenderal Portugis saat itu, Alfonso de Albuquerque.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar