Hikmah Ramadan
Puasa dan Katarsis Politik

Katarsis yang dihasilkan puasa dapat menjadi energi moral untuk memperkuat gerakan antikorupsi, mempersempit ruang oligarki, dan memulihkan kepercayaan publik terhadap negara.
Pada akhirnya, bangsa tidak hanya membutuhkan sistem yang baik, tetapi juga manusia yang mampu menahan diri. Puasa mengingatkan bahwa kekuasaan yang tidak dikendalikan oleh moral akan berubah menjadi alat penindasan.
Sebaliknya, kekuasaan yang dijalankan dengan kesadaran spiritual dapat menjadi sarana keadilan. Karena itu, puasa harus dimaknai lebih luas sebagai gerakan pembersihan: membersihkan hati dari keserakahan, membersihkan politik dari korupsi, dan membersihkan negara dari dominasi kepentingan sempit.
Katarsis spiritual yang lahir dari puasa semestinya mengalir menjadi katarsis sosial mendorong lahirnya kepemimpinan yang sederhana, kebijakan yang adil, dan tata kelola transparan. Bangsa ini tidak kekurangan hukum, tetapi sering kekurangan pengendalian diri.
Di tengah godaan kekuasaan dan kekayaan yang semakin besar, puasa menjadi pengingat paling mendasar: bahwa kekuatan terbesar manusia bukanlah kemampuan menguasai, melainkan kemampuan menahan diri.
Maka berpuasalah, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi dari keserakahan, dari penyalahgunaan kewenangan, dan dari hasrat menguasai tanpa batas.
Dengan puasa seperti itu, kita tidak hanya membersihkan diri, tetapi juga membersihkan politik, merawat demokrasi, dan menegakkan martabat bangsa serta negara. (*)




Komentar