Hikmah Ramadan

Puasa dan Katarsis Politik

Djarot Saiful Hidayat

Oleh: Djarot Saiful Hidayat
(Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI)

Puasa pada hakikatnya bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan spiritual untuk menata kembali relasi manusia dengan dirinya sendiri.

Al-Qur’an menegaskan: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Jumat, 6 Maret 2026

Kata kunci dari ayat ini adalah takwa: kemampuan mengendalikan diri di hadapan godaan, kepentingan, dan hasrat berlebihan.

Puasa melatih manusia untuk tidak tunduk pada dorongan instingtif yang jika dibiarkan akan berkembang menjadi kerakusan, keserakahan, dan dominasi atas yang lain.

Ayat lain menegaskan dimensi moral puasa: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang berlebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Spirit anti-ekses ini mengandung pesan sosial-politik yang kuat.

Dalam kehidupan publik, kerusakan sering lahir bukan karena kebutuhan, melainkan karena ketamakan. Kekuasaan yang awalnya instrumen pelayanan berubah menjadi alat akumulasi.

Jabatan yang seharusnya amanah berubah menjadi sarana memperkaya diri dan kelompok. Puasa, dalam makna terdalamnya, adalah terapi terhadap mentalitas berlebih itu.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...