Nuzulul Qur’an Menuju Lisan yang Menyejukkan: Spirit Qaulan Layyina

Puasa mendidik manusia untuk mengendalikan diri, termasuk menjaga lisan. Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan berteriak-teriak.” (HR. Bukhari). Pesan ini menegaskan bahwa ibadah puasa harus berdampak pada etika komunikasi.
Menurut Dr. Muzammil H. Siddiqi (1991) dalam kajiannya tentang bahasa dan komunikasi dalam Islam, “bahasa lembut adalah kekuatan moral yang mampu meredam konflik sosial, membangun solidaritas, dan memperkuat integrasi masyarakat” (Islamic Review, Vol. 79).
Ulama kontemporer seperti Prof. Dr. Hamka dan Syekh Yusuf al-Qaradhawi menekankan bahwa: “Adab berbicara bukan hanya sekadar aturan, tetapi mencerminkan kualitas iman.” (Disarikan dari Fiqh an-Nass wa Tanassub oleh al-Qaradhawi).
Fase sepuluh hari kedua Ramadhan yang juga terdapat momentum Nuzulul Qur’an ini, hendaknya menjadi titik balik bagi generasi muda, meraih maghfirah (pengampunan) Allah SWT.
Dengan dimulai dari menjaga lisan, menjaga setiap tutur kata yang diucapkan, menjaga setiap bahasa yang digunakan baik itu saat berinteraksi secara langsung maupun melalui media sosial.
Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk dihidupkan dalam perilaku. Dari lisan yang menyejukkan akan lahir masyarakat yang damai.
Qaulan layyina adalah cahaya akhlak yang harus memancar dalam setiap ucapan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital, puasa memberi kita latihan kesabaran dan qaulan layyina adalah latihan lisan yang mengubah hati. (*)




Komentar