Nuzulul Qur’an Menuju Lisan yang Menyejukkan: Spirit Qaulan Layyina

Nurul Zakiah

Istilah maw`idzhah hasanah dan qaulan layyina mencerminkan seni berbicara yang tidak hanya benar secara substansi tetapi pula menyejukkan secara emosional. Ramadhan menjadi saat Allah mendidik umat-Nya agar lisan berbuah hikmah, kelembutan, dan kasih sayang.

Penelitian komunikasi Islam kontemporer dalam jurnal Journal of Islamic Communication Studies (2020) menunjukkan bahwa etika komunikasi Qur’ani seperti qaulan layyina dan qaulan sadidan sangat relevan untuk meredam polarisasi dan konflik di ruang digital generasi muda.

Momentum Nuzulul Qur’an menjadi titik balik bagi anak muda bahwa konten sindiran menjadi konten inspirasi, konten konten pedas menjadi dialog konstruktif, dan dari perdebatan emosional menjadi diskusi penuh hikmah.

Selain itu Nuzul Qur’an sebagai reflektif bahwa wahyu Allah diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi diinternalisasikan dalam perilaku, termasuk komunikasi.

Turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita bahwa bahasa dan lisan memiliki kekuatan besar untuk membangun ataupun merusak.

Studi oleh Dr. Abdullah Saeed (2006) dalam buku Interpreting the Qur’an menunjukkan bahwa banyak ayat Al-Qur’an yang menekankan adab sosial termasuk komunikasi, karena lisan mencerminkan nilai moral seseorang.

Nuzulul Qur’an mengingatkan kita bahwa wahyu bukan sekadar teks, tetapi adab dalam hidup. Qur’an mengajarkan tidak hanya hukum, tetapi juga etika berbahasa: “…dan ucapkanlah kepada manusia dengan baik.” (QS. Al Baqarah: 83).

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...