Nuzulul Qur’an Menuju Lisan yang Menyejukkan: Spirit Qaulan Layyina

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya “Perkataan yang baik adalah sedekah,” (HR. Bukhari dan Muslim). Sehingga, hadis ini menjelaskan bahwa kata yang baik memiliki nilai ibadah.
Ucapan yang baik bukan sekadar etika sosial, tetapi termasuk amal yang mendatangkan pahala. Rasulullah SAW sendiri dikenal dengan tutur kata yang lembut, sehingga setiap orang merasa nyaman ketika berbicara dengan beliau baik sahabat, keluarga, maupun orang yang baru mengenalnya.
Dalam konteks bulan suci Ramadhan hari ini diwarnai dengan fenomena baru di kalangan anak muda: media sosial, konten digital, podcast, live streaming, dan ruang diskusi daring.
Di satu sisi, ini membuka peluang dakwah yang luas. Namun di sisi lain, ia juga melahirkan budaya komentar kasar, debat tanpa adab, dan ujaran kebencian.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menegaskan standar keimanan dalam berbicara. Nuzulul Qur’an sendiri mengingatkan bahwa tujuan wahyu bukan sekadar teks kuno, tetapi membentuk karakter Muslim di setiap zaman.
Salah satu dzikir utama Al-Qur’an adalah pembentukan lisan yang mulia yang disebut Allah sebagai qaulan layyina perkataan yang lembut dan menyejukkan: “…Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, maw`idzhah hasanah dan jidalul-baligha…” (QS. An Najm: 3).
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar