Hikmah Ramadan

Ramadan & Logical Fallacy: Revolusi Akal dan Hati di Bulan Pencerahan

Munawir Kamaluddin

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata:
Pendapatku benar tetapi mungkin salah, dan pendapat orang lain salah tetapi mungkin benar.

Ini adalah etika intelektual yang agung. Kerendahan hati dalam berpikir adalah tanda kedewasaan iman. Ramadhan seharusnya menumbuhkan sikap ini, bahwa kita bisa salah, dan orang lain bisa benar.

Logical fallacy juga sering lahir dari prasangka. Allah mengingatkan dengan bahasa yang sangat halus:
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.”( QS. Al-Hujurat: 12).

Prasangka adalah pintu awal kesalahan logika. Kita menilai niat orang tanpa bukti, menuduh tanpa klarifikasi, dan merasa paling benar tanpa refleksi. Ramadhan datang untuk membersihkan kabut itu.

Secara spiritual, puasa melatih kesadaran. Ketika lapar, kita belajar sabar. Ketika haus, kita belajar menahan diri. Ketika ingin marah, kita ingat bahwa kita sedang berpuasa. Rasulullah SAW. mengajarkan:

Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan bersikap bodoh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Jangan bersikap bodoh” bukan hanya soal perilaku, tetapi juga cara berpikir. Kebodohan intelektual sering lebih berbahaya daripada kebodohan emosional. Maka Ramadhan sejatinya adalah revolusi.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...