Hikmah Ramadan

Ramadan & Logical Fallacy: Revolusi Akal dan Hati di Bulan Pencerahan

Munawir Kamaluddin

Lebih dalam lagi, Al-Qur’an memperingatkan:
Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra: 36).

Betapa relevannya ayat ini di era informasi instan. Banyak orang mengikuti opini tanpa ilmu, membagikan kabar tanpa klarifikasi, dan membenci tanpa memahami. Logical fallacy bukan sekadar kesalahan logika, ia adalah cacat moral jika dibiarkan.

Rasulullah SAW. bersabda:
Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Hadits ini seperti teguran keras di zaman media sosial. Tidak semua yang didengar harus disebarkan. Tidak semua yang viral adalah benar. Ramadhan mengajarkan kontrol diri, dan kontrol diri itu juga berlaku pada informasi dan opini.

Logical fallacy sering lahir dari hati yang tidak bersih. Ketika ego dominan, kebenaran menjadi relatif. Ketika kebencian memimpin, fakta dipelintir agar sesuai selera. Karena itu Allah SWT mengingatkan:

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah… dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8).

Inilah koreksi cara merasa. Ramadan bukan hanya menyucikan perut, tetapi juga menyaring emosi. Kebencian yang tidak terkendali melahirkan sesat pikir. Dan sesat pikir melahirkan konflik sosial.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...