Hikmah Ramadan
Ramadan & Logical Fallacy: Revolusi Akal dan Hati di Bulan Pencerahan

Oleh: Munawir Kamaluddin
(Guru Besar UIN Alauddin Makassar)
Ada manusia yang rajin beribadah, tetapi cara berpikirnya masih penuh prasangka. Ada yang tekun berpuasa, tetapi lisannya tetap gemar menyimpulkan tanpa data. Ada yang khusyuk tarawih, namun mudah terjebak pada kabar yang belum tentu benar.
Di sinilah kita perlu bertanya dengan jujur, apakah Ramadhan hanya melatih lapar dan haus, atau juga menertibkan cara kita berpikir dan merasa?
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 5 Maret 2026
Logical fallacy adalah kesalahan berpikir, sesat nalar, ketika kesimpulan diambil tanpa landasan yang benar. Ia bisa berbentuk generalisasi berlebihan, prasangka tanpa bukti, mengikuti emosi tanpa verifikasi, atau membenarkan diri hanya karena mayoritas melakukannya.
Dalam realitas sosial hari ini, logical fallacy tumbuh subur di ruang digital, dalam perdebatan politik, bahkan dalam percakapan keluarga.
Hoaks dipercaya karena sesuai selera. Tuduhan dilempar karena cocok dengan emosi. Kebenaran diukur dari viralitas, bukan validitas.
Lalu apa kaitannya dengan Ramadhan?
Ramadan bukan hanya ibadah fisik. Ia adalah madrasah penyucian akal dan hati. Allah SWT. menegaskan:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka telitilah (verifikasilah).”(QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat ini adalah fondasi etika berpikir. Tabayyun bukan hanya etika sosial, tetapi juga disiplin intelektual. Ramadhan seharusnya melatih kita untuk tidak gegabah dalam menilai, tidak cepat menghakimi, dan tidak mudah menyimpulkan tanpa data.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar