Dominasi Viralitas dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital

Masalahnya, generasi muda sebagai kelompok paling aktif di ruang digital sering kali tanpa sadar menjadi agen reproduksi viralitas tersebut.
Aktivitas membagikan informasi kerap didorong oleh respons emosional, bukan refleksi kritis. Tombol share menjadi lebih cepat ditekan dibanding proses verifikasi.
Di titik inilah dominasi viralitas menemukan momentumnya. Opini publik tidak lagi terbentuk melalui proses pertimbangan kolektif yang matang, tetapi melalui akumulasi respons spontan jutaan pengguna digital.
Realitas sosial kemudian dikonstruksi secara masif melalui interaksi digital yang berlangsung hampir tanpa jeda.
Pandangan ini sejalan dengan teori konstruksi sosial realitas.
Dari Peter L. Berger seorang sosiolog dan teolog Protestan kelahiran Wina (Austria) bersama Thomas Luckmann sosiolog asal Slovenia (Jerman) melalui Karya “The Social Construction of Reality” yang menegaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses produksi dan reproduksi makna.
Dalam ruang digital, proses konstruksi tersebut berlangsung dengan kecepatan eksponensial atau pola perubahan sosial. Viralitas mempercepat transformasi opini menjadi “kebenaran sosial” meskipun fondasinya belum tentu kokoh.
Di sinilah persoalan mendasar muncul. Ketika viralitas menjadi standar utama perhatian publik, maka batas antara kepentingan publik dan kepentingan popularitas menjadi kabur.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar