Dominasi Viralitas dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital

Julkifli Gadeang

Kita hidup dalam situasi ketika viralitas mampu mengangkat isu remeh menjadi agenda nasional, sementara persoalan struktural yang menyangkut hajat hidup masyarakat justru tenggelam karena gagal menarik perhatian ruang digital.

Dengan kata lain, ruang publik hari ini semakin dikendalikan oleh ekonomi perhatian (attention economy), di mana visibilitas lebih menentukan dibanding validitas.

Pemikir media, Marshall McLuhan sarjana sastra dan teoretikus media asal Kanada Pemikirannya tentang “Teknologi Komunikasi” sebagai “Perpanjangan Manusia” dan semboyannya “the medium is the message” yaitu membentuk cara baru memahami hubungan antara media, persepsi, dan budaya di era elektronik.

Sejak lama ia menegaskan bahwa media bukan sekadar saluran komunikasi, melainkan kekuatan yang membentuk cara manusia memahami realitas.

Dalam konteks media sosial, pernyataan tersebut menemukan relevansinya. Bahwa algoritma digital tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga menentukan realitas mana yang dianggap penting oleh masyarakat.

Apa yang terus muncul di lini masa perlahan diterima sebagai kenyataan sosial. Repetisi informasi menciptakan kesan kebenaran, meskipun belum tentu didasarkan pada fakta yang utuh. Di sinilah viralitas bekerja sebagai mekanisme baru dalam produksi opini publik.

Situasi ini menandai pergeseran fungsi ruang publik sebagaimana dibayangkan oleh Jurgen Habermas seorang filsuf dan sosiolog asal Jerman melalui karyanya “The Structural Transformation of the Public Sphere” atau Transformasi Struktural Ranah Publik.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...