(Catatan Pendek Monolog Kolano Zainal Abidin Syah)

“Sang Kolano Pelengkap Kedaulatan”

Syaiful Bahri Ruray

Walau sangsaka merah putih telah berkibar di Tanah Papua, tokh tanah air Indonesia, diwajibkan harus membayar 4,3 miliar Gulden, setara 1,13 milyar US Dollar atau Rp860 Triliun, kepada penjajah si angkara murka.

Hutang ini, baru saja lunas pada 2003. Belum lagi terhitung korban kekerasan di Tanah Papua yang berjatuhan hingga kini, akibat separatisme warisan kolonial masa lalu. Kolano sadar, walau telah memberi banyak, termasuk pengabaran Injil di Mansinam.

Kolonialisme tak pernah menyisakan keikhlasan dalam sejarah tanah jajahan, dimanapun alkisahnya. Memang kemerdekaan, tidak mungkin gratis, ia benar-benar harus diperjuangkan.

Sebagaimana jejak Kaicili Paparangan, Kolano Nuku si Prins Rebel, juga Jou Guru Tidore Abdullah bin Qadi Abdussalam yang terbuang nun jauh di Srilangka, hingga akhir hayat di Cape Town Afrika Selatan.

Karenanya, kita pernah dikhianati berkali-kali, tak kala narasi disusun manis, untuk memanipulasi sejarah dan budaya kita sendiri.

Sang Kolano, hadir, menampik dan menghardik, bahwa setiap anak negeri Moloku Kieraha, adalah utusan sejarah, adalah utusan budaya, untuk meluruskan diri membersihkan nawaitu, agar tak mudah terombang-ambing dalam peta hegemoni sesaat. Kita bukanlah mahluk kosong tanpa nilai yang harus diemban.

Akh..Kolano Zainal Abidin Syah, bukanlah juga sekadar pelengkap sejarah dalam rak-rak buku sejarah anak negeri. Ia harus hadir, sebagai sosok diri pengemban nilai, bahwa kita adalah kosmopolit terbilang zaman.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...