(Catatan Pendek Monolog Kolano Zainal Abidin Syah)

“Sang Kolano Pelengkap Kedaulatan”

Syaiful Bahri Ruray

Dalam Konferensi Denpasar, juga Sang Kolano bersikeras, menolak rencana busuk Hubertus Johannes van Mook, untuk melepaskan West Guinea (Irian Barat, Papua skrg), dari peta Indonesia sebagai bangsa yang merdeka pertama kali paska Perang Dunia II.

Muslihat busuk kolonial itu, seakan telah terbaca, dalam dalam wirid sunyi tawassul sang kolano, bahwa Papua akan dikhianati, jika kita tak sadar diri.

Sang Kolano bertahan, jauh sebelum tibanya Konferensi Meja Bundar, yang di tandatangani Ratu Juliana dan Bung Hatta di Den Haag, 27 Desember 1949.

Ternyata benar, KMB benar-benar dikhianati Belanda. Muslihat demi muslihat dilakukan, dengan menciptakan Papua Merdeka, dengan bendera sendiri, mendeklarasikan negara boneka.

Zainal Abidin Syah, sadar bahwa ditengah Tidore, ada hulubalang dan abdi dalem Papua, hidup aman tanpa sekat di Bobo.

Bahkan Bung Karno butuh 3 kali, berkunjung ke Tidore, bertatap muka dengan sang kolano, sebelum ia percaya diri, mendeklarasikan Trikora di Gedong Agung Ngayogyakarta Hadiningrat. Sang Kolano pun di daulat menjadi Gubernur pertama Irian Barat.

Bung Karno seakan meneruskan peran sejarah Jazirah al Mulk. Bahwa kesatuan kita, tak dapat dimanipulasi politik pecah belah ala kolonial. Karena politik muslihat Barat itu, memang berawal dari sini, dari Moloku Kieraha, hingga New York 15 Agustus 1962 serta PEPERA 1969.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...