(Catatan Pendek Monolog Kolano Zainal Abidin Syah)

“Sang Kolano Pelengkap Kedaulatan”

Syaiful Bahri Ruray

Seperti yang dilakukan Christopher Columbus. Ia mengira Amerika, benua baru tersebut, adalah Jaziratul Mulk, lalu menamai penduduk lokal sebagai Indian, seakan itulah Ternate dan Tidore, Bacan atau Jailolo.

Ia mengira disitulah Makian, asal cengkih yang mengawali semerbaknya. Ratu Isabella penguasa Andalusia, sebenarnya telah ditipunya, dengan mengatakan di benua, musim cengkih dan pala belum tiba, ketika ia dan para ABK-nya membuang sauh.

Lalu, ekspedisi demi ekspedisi, mencari jalur menuju Jaziratul Mulk. Barat, dengan mentalitas hegemoni, syahwat monopoli yang tak terkendali, mencari jalan, setelah Konstantinopel, sebagai pusat perdagangan jalur sutera (jalur rempah) jatuh ditangan Ottoman.

Imbasnya, sesama bangsa Barat, tiba dan bertikai, antara sesama mereka sendiri, sebutlah Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris. Bahkan mereka juga memprovokasi kita-kita sang anak negeri kosmopolit, untuk berpihak pada hegemoni mereka.

Lahirlah praktek curang divide et impera, melalui hasut, fitana, konflik, untuk menanam kebencian yang seakan warisan abadi tersebut.

Seakan sesama kita, ada perbedaan yang tak mungkin disamakan. Formasi sosial dan kultural lama kita yang kosmopolit, sengaja dihancurkan, diporak porandakan.

Para Kolano Jaziratul Mulk, jauh sebelum kedatangan bangsa kulit putih, telah memiliki traktat nurani yang melampaui zamannya. Mereka membentuk Traktat Moti (1322), sebuah ikatan nurani yang mengawali terbentuknya konfederasi Moloku Kieraha.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...