Puasa dan Ketidakadilan Struktural: Ketika Ramadan Kehilangan Daya Gugah Sosial

H. M. Thariq Kasuba, LC,. M.A
H. M. Thariq Kasuba, LC,. M.A

Padahal sedekah karitatif ini hanya mengobati gejala, bukan penyakit. Memberi makan orang lapar selama sebulan tidak menjawab mengapa mereka tetap tidak punya akses modal atau tanah setelah Idul Fitri.

​Ketiga: Industri kapitalis yang sangat sukses menjinakkan makna puasa. Dapat kita lihat Ramadhan kini identik dengan diskon belanja, iklan makanan mewah saat berbuka, dan konten hiburan religi yang di glow-up.

Konten kemiskinan ditampilkan di TV saat Ramadhan, seringkali ia dieksploitasi sebagai konten "mengharukan" untuk memancing air mata, bukan untuk memicu kesadaran kritis bahwa ada sistem yang timpang.

​​Oleh sebab itu islam memberikan beberapa peringatan keras sekaligus solusi akan hal ini:

​1. Harta yang Menumpuk (peringatan pada Oligarki)

Islam melarang perputaran uang hanya di lingkaran kecil (elit).

​كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

"...agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." (QS. Al-Hasyr: 7)

Puasa seharusnya menjadi momen audit: Apakah kebijakan ekonomi kita sudah mendistribusikan kekayaan atau justru melanggengkan penumpukan?

  1. Celaka bagi Penimbun (peringatan bagi yang Monopoli)

​وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ . ٱلَّذِى جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُۥ

"Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya (menimbunnya)." (QS. Al-Humazah: 1-2)

Ayat ini mengecam perilaku akumulasi modal tanpa fungsi sosial. Di bulan puasa, isu penimbunan bahan pokok oleh kartel seharusnya menjadi musuh utama ibadah.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...