Geothermal dalam Masyarakat Risiko

Tiklas Pileser Babua

Political ecology mengingatkan kita bahwa angka dan grafik bukanlah entitas netral. Mereka adalah instrumen kekuasaan yang dapat melegitimasi keputusan tertentu dan membungkam kekhawatiran lain.

Transisi Energi atau Ekstraktivisme Baru?

Geothermal sering diposisikan sebagai antitesis energi fosil. Namun jika dilihat dari perspektif political ecology, ada kontinuitas tertentu dengan logika ekstraktivisme: eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan ekonomi makro, dengan dampak lokal yang harus “dikelola”.

Pertanyaannya bukan apakah geothermal setara dengan batu bara dalam hal emisi jelas tidak. Pertanyaannya adalah apakah model pengelolaannya mereproduksi pola relasi kuasa yang sama: pusat menentukan, pinggiran menanggung.

Dalam masyarakat risiko, legitimasi moral “demi iklim” dapat berfungsi sebagai tameng kritik. Setiap penolakan lokal mudah dicap anti-pembangunan atau anti-lingkungan, padahal yang dipersoalkan sering kali adalah keadilan distribusi risiko.

Menuju Modernitas Refleksif

Namun kritik ini tidak bertujuan menolak geothermal secara total. Mengikuti gagasan reflexive modernity dari Ulrich Beck, yang diperlukan adalah kemampuan masyarakat untuk mengkritisi dan mereformasi praktik modernitasnya sendiri.

Refleksivitas berarti:

1. Transparansi radikal atas data seismik dan hidrologi.
2. Partisipasi deliberatif masyarakat dalam pengambilan keputusan.
3. Audit independen yang benar-benar otonom dari kepentingan proyek.
4. Distribusi manfaat langsung kepada komunitas terdampak.
5. Pengakuan eksplisit atas ketidakpastian ilmiah, bukan penyembunyian dalam jargon teknis.
Transisi energi yang demokratis bukan hanya soal mengganti sumber energi, tetapi mengubah cara keputusan dibuat dan risiko didistribusikan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...