Hikmah Ramadan

Keluarga Muslim dan Ekoteologi di Bulan Suci

Ali Faisal

Ketika gerakan keluarga Muslim semacam ini terus ditularkan dan kemudian menjadi semacam //habbitus//, maka sesungguhnya kita berhasil menerjemahkan nilai ibadah ke dalam tanggung jawab ekologis yang bernilai vertikal sekaligus horizontal.

Sejalan dengan rangkuman Mary Evelyn Tucker dan John A. Grim (2003) yang menuliskan bahwa agama memiliki lima prinsip dasar untuk menyelamatkan bumi, yakni;

- reference (keyakinan spiritual yang menuntun cara pandang terhadap alam),
- respect (penghargaan terhadap seluruh makhluk hidup),
- restrain (kemampuan menahan diri agar tidak berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya),
- redistribution (kedermawanan dalam mendistribusikan kekayaan dan kebahagiaan), serta
- responsibility (tanggung jawab moral untuk merawat dan menjaga bumi sebagai amanah).

Ketika gerakan ekoteologi terus menerus di sampaikan oleh kita semua, oleh otoritas negara apalagi terus bergaung di rumah-rumah ibadah sebagai pengingat  keluarga Muslim, maka disanalah amanah sebagai khalifah menemukan salah satu wujud nyata.

Ramadan menyediakan ruang reflektif, dimana kita bisa memaknai ulang kata ”imsak” sebagai penanda untuk mengatakan ”cukup”.

Kecukupan yang mengantarkan mimpi ideal ekoteologis. Semoga dengan langkah berjamaah menjaga bumi menjadi bagian dari kesucian yang diharapkan pada bulan Ramadan yang berdampak pada semua waktu setelahnya, sehingga Ramadan hadir untuk keberkahan bagi manusia dan alam raya. Wallahu ’alam. (*)

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...