Hikmah Ramadan
Keluarga Muslim dan Ekoteologi di Bulan Suci

Beberapa diantaranya Francis Bacon merumuskan metode empiris dengan istilah-istilah kejam. ”alam harus diburu dalam pengembaraannya”, “diikat dalam pelayanan dan dijadikan budak”, ”alam harus dimasukkan ke dalam kerangkeng, dan tujuan ilmuwan adalah mengambil rahasia alam secara paksa”.
Bagi Descrates. ”alam semesta adalah sebuah mesin, tidak ada tujuan, kehidupan, dan spiritualitas dalam alam materi”(Ali Yafie:2006).
Di tengah kerusakan demi kerusakan, kesadaran muncul dari Kementerian Agama sebagai otoritas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam bidang agama, yang mengusung gerakan ekoteologi sebagai salah satu prioritas nasional 2025-2029, sebuah program yang mencoba mengintegrasikan nilai-nilai ekologis dengan layanan keagamaan.
Prof. Nazaruddin Umar menjelaskan alam sebagai ayat, yaitu tanda-tanda kebesaran Tuhan, dimana alam dan manusia berkedudukan sebagai makhluk, sedangkan Tuhan sebagai sang Pencipta.
Oleh karenanya, menurut Prof. Nazaruddin ketika membincang ekoteologis tidak mungkin bisa dipisahkan dari cara agama memandang struktur penciptaan. (Kemenag:2025)
Namun demikian, kebijakan sebesar apapun tidak akan bermakna tanpa diawali dari praktik keseharian. Di sinilah peranan keluarga muslim menjadi penentu.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar