Hikmah Ramadan

Keluarga Muslim dan Ekoteologi di Bulan Suci

Ali Faisal

Spirit inilah yang seharusnya menjadi alarm alam bawah sadar Ramadan, yakni kesederhanaan, bukan berlebihan apalagi sampai dipamerkan.

Manusia sebagai khalifah di bumi, sebagaimana Q.S. al-Baqarah ayat 30. Manusia diberi akal dan potensi untuk menciptakan kemaslahatan, keadilan, dan menjaga keseimbangan ekosistem serta kehidupan sosial.

Ayat ini dalam perspektif ekoteologi memiliki makna bahwa sebagai khalifah manusia memegang amanah untuk menjaga dan merawat, bukan sebaliknya berlaku sewenang-wenang bahkan merusak.

Amanah ini bukan hanya berhenti dalam tataran ritual, tetapi menjelma dalam kehidupan sehari-hari hingga ke dapur rumah tangga.

Sebab kerusakan ekologis kerap berawal dari kebiasaan kecil yang dianggap remeh temeh seperti makanan berlebihan dan terbuang, pemborosan penggunaan energi, penggunaan plastik sekali pakai dan sampah rumah tangga yang tidak dikelola dengan bijak.

Jika dirunut lebih jauh, memang telah lama manusia melakukan kesalahan cara pandang yang dikotomis, menganggap alam sebagai bagian terpisah dari manusia.

Dan paham antroposentris yang menganggap bahwa manusia adalah pusat dari sistem alam mempunyai peran besar terhadap terjadinya kerusakan ekosistem. (Teologi Lingkungan:2011).

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...