Puasa Sah, Tapi Apakah Diterima? Memahami Perbedaan Sah dan Qabul dalam Ibadah

Selain itu, jika akhlak buruk yang belum kita hilangkan itu berupa lisan (ghibah, dusta, mencaci), maka Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh (atas usahanya) meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari)
Oleh sebab itu, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan:
- Puasa Awam: Hanya menahan lapar, dahaga, dan syahwat (Ini yang kita sebut "sah tapi akhlak tidak berubah").
- Puasa Khusus: Menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, dan kaki dari dosa.
- Puasa Khususil Khusus: Puasanya hati dari pikiran duniawi dan memfokuskan diri hanya kepada Allah SWT.
Pertanyaan apakah berarti puasa jadi sia-sia?
Tidak sepenuhnya sia-sia, namun merugi.
- Secara Hukum: Anda sudah menggugurkan kewajiban.
- Secara Hasil: Anda kehilangan esensi Taqwa (tujuan utama puasa)
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
(QS Al-Baqara:183)
Analoginya: Ibarat seseorang yang sekolah sampai lulus tapi tidak mendapatkan ilmu. Dia punya ijazah (status sah), tapi dia tidak bisa apa-apa (tidak ada efek positif dan manfaat dalam kehidupan nyata).
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar