Puasa Sah, Tapi Apakah Diterima? Memahami Perbedaan Sah dan Qabul dalam Ibadah

H. M. Thariq Kasuba, LC,. M.A
H. M. Thariq Kasuba, LC,. M.A

​Selain itu, jika akhlak buruk yang belum kita hilangkan itu berupa lisan (ghibah, dusta, mencaci), maka Rasulullah SAW bersabda:

​مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

​"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh (atas usahanya) meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari)

​Oleh sebab itu, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan:

  1. Puasa Awam: Hanya menahan lapar, dahaga, dan syahwat (Ini yang kita sebut "sah tapi akhlak tidak berubah").
  2. Puasa Khusus: Menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, dan kaki dari dosa.
  3. Puasa Khususil Khusus: Puasanya hati dari pikiran duniawi dan memfokuskan diri hanya kepada Allah SWT.

​Pertanyaan apakah berarti puasa jadi sia-sia?

​Tidak sepenuhnya sia-sia, namun merugi.

  • ​Secara Hukum: Anda sudah menggugurkan kewajiban.
  • ​Secara Hasil: Anda kehilangan esensi Taqwa (tujuan utama puasa)

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

(QS Al-Baqara:183)

Analoginya: Ibarat seseorang yang sekolah sampai lulus tapi tidak mendapatkan ilmu. Dia punya ijazah (status sah), tapi dia tidak bisa apa-apa (tidak ada efek positif dan manfaat dalam kehidupan nyata).

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...