Puasa Empati di Kursi Kekuasaan: Saat Topeng Pejabat Terlepas

Oh, jangan khawatir. Jangan pernah meremehkan elastisitas birokrasi kita. Keajaiban itu biasanya selalu datang tepat waktu. Tepatnya, di bulan-bulan terakhir menjelang masa jabatannya habis.
Ketika masa tenggang kekuasaan kian menipis, atau ketika syahwat untuk mencalonkan diri lagi mulai bergelora, mukjizat pun turun dari langit rektorat. Topeng usang yang dulu dilempar ke gudang, buru-buru dicari kembali. Debunya ditiup. Lalu dipasang lagi rapat-rapat menutupi wajah.
Mendadak, sang penguasa kembali menjadi sosok paling melankolis sedunia. Tiba-tiba rajin turun ke bawah. Mendadak suka tersenyum manis membagikan takjil.
Mendadak ramah menyapa staf bawahan yang selama bertahun-tahun tak pernah ia ingat namanya. Empatinya mendadak penuh, sinyal kepeduliannya kembali full bar. Sungguh jenaka.
Di bulan suci ini, kita tentu sibuk berdoa agar puasa menahan lapar kita diterima oleh Yang Maha Kuasa. Namun, untuk para pemegang kekuasaan yang sedang dimabuk takhta, doanya jelas harus berbeda.
Semoga "puasa empati" mereka segera batal. Jangan sampai mereka kebablasan berpuasa merasakan penderitaan orang lain, sampai-sampai lupa bahwa setiap kekuasaan pasti ada waktu berbukanya.
Dan percayalah, berbuka puasa di akhir masa jabatan dengan menu teguran dari Tuhan dan sumpah serapah dari bawahan, rasanya sama sekali tidak manis. (*)




Komentar