Puasa Empati di Kursi Kekuasaan: Saat Topeng Pejabat Terlepas

Abd. Rahman

Nah, saat seseorang mulai mabuk takhta, saraf empati di otaknya mendadak tumpul. Kelembutan hati perlahan mengeras, membatu, dan akhirnya mati rasa terhadap penderitaan sesama.

Orientasi otak yang tadinya berteriak soal kemaslahatan umat, mendadak error. Fokusnya berputar 180 derajat menjadi pemujaan terhadap diri sendiri.

Yang ada di kepala sang penguasa hanyalah daftar keinginan narsistik: Bagaimana agar saya terlihat keren? Bagaimana supaya saya tampak gagah di spanduk jalan raya? Bagaimana agar saya dicatat sebagai pahlawan tunggal penyelamat institusi?

Penderitaan staf, jeritan bawahan, atau keluhan masyarakat mendadak tak terdengar. Kalaupun terdengar, itu hanya dianggap sebagai angin lalu. Atau paling banter, dianggap sebagai dengungan lalat yang mengusik kenyamanan minum kopinya.

Sang pemimpin tak lagi butuh kenyataan. Ia hanya sibuk bersimbiosis dengan lingkar dalamnya, sebuah kelompok paduan suara eksklusif yang tugasnya cuma satu: menyanyikan lagu "Bapak Selalu Benar" di setiap jam kerja.

Ini adalah ironi tingkat dewa. Saat Ramadan menyuruh manusia berpuasa dari hawa nafsu agar empatinya bangkit, sang penguasa justru sedang khusyuk mempuasakan empatinya demi mengejar syahwat takhta.

Lalu, pertanyaannya: apakah empati yang mati suri ini bisa bangkit lagi? Kapan topeng kesantunan itu akan dipakai kembali?

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...