Hikmah Ramadan

Ramadan Momen Puasa Verbal di Era Viral

Muhammad Sinen

Sahabat yang lain menegur kebiasaan Abu bakar seraya berkata,” wahai Abu Bakar, anda adalah abu Bakar!”.

Maksud dari sahabat adalah, Abu Bakar adalah sahabat yang telah dijamin masuk surga, bukankah sangat berlebihan jika Abu Bakar harus memasukkan kerikil hanya untuk tidak sembarangan saat berbicara.

Abu Bakar menjawab dengan nada marah, “celakalah kamu, gara-gara ini (Abu Bakar menjulurkan sambil menekan lidahnya) orang masuk neraka dalam keadaan dimurkai oleh Allah”.

Tingkat kesulitan untuk ”diam”, semakin menemukan tantangan di era berebut, karena ujung jemari meghadapi godaan tersendiri dengan hadirnya media sosial yang jauh lebih berisik dibanding dunia nyata.

Godaan berbicara dengan ujung jari nampak begitu jelas mewarnai platform media sosial. Saat membuka WA, rayuan untuk berbicara sudah tersenyum berkata,”add your status”, tambahkan statusmu.

Saat membuka Face book, FB sudah menunggu kita dengan senyum,” what on your mine”, apa yang anda pikirkan?, dan saat membuka instragram langsung dihidangkan di depan kita,”add your story”, tulislah kisahmu.

Dari sarana digital ini kita jadi berisik tanpa batas dengan jangkauan yang jauh lebih luas. Maka menahan diri untuk tidak gampang bicara, komen atau sekedar menanggapi obrolan-obrolan receh semakin sulit untuk dikendalikan.

Maka semakin nampak terang benderang bahwa puasa yang berkualitas tidaklah hanya kemampuan seseorang menahan lapar dahaga, tetapi lebih komplek dari hanya sekedar urusan perut.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...