Hikmah Ramadan

Ramadan Momen Puasa Verbal di Era Viral

Muhammad Sinen

Oleh: Muhammad Sinen, S.E
(Walikota Tidore Kepulauan)

Puasa secara harfiah bermakna menahan, menahan dari makan, minum dan nafsu syahwat dari sejak terbit hingga terbenam matahari, mereka yang sanggup meniatkan aktifitas hanya karena Allah jalla syaknuh akan mendapatkan dua kebahagiaan.

Pertama, saat berbuka puasa.
Kedua kelak saat berjumpa dengan Sang Maha Pencipta.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 25 Februari 2026

Puasa sejatinya tidak hanya tentang menahan lapar dan dahaga, kesempurnaan berpuasa ketika seseorang yang berpuasa benar-benar sanggup mengendalikan segala keburukan yang berpotensimuncul dari dalam diri manusia itu sendiri.

Bagian terpenting yang harus mendapatkan perhatian untuk lebih berhati-hati adalah lisan, karena lisan dapat merusak kerja keras perut dalam menahan lapar atau tenggorokan dalam menahan haus, pahala yang Allah siapkan akan hangus percuma saat lisan tidak sanggup mendetek dan verifikasi setiap verbal yang akan keluar.

Kebahagian tidak hanya didapat dengan kemampuan menahan diri dari lapar dan dahaga, kebahagiaan dengan level berbeda justru akan diraih saat orang yang berpuasa benar-benar sanggup berpuasa verbal dan kata-kata.

Imam Tirmidzi berkata: ”Saya berulang kali merasa menyesal karena terlalu banyak bicara, dan saya tidak pernah merasa menyesal saat memperbanyak diam”.

Abu Bakar sebagai sahabat terdekat nabi lebih keras terhadap dirinya dalam berhati-hati berbicara, beliau memasukkan kerikil seukuran mulut agar lisannya tidak mudah untuk bicara dan dilepas hanya saat sholat dan makan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...