Hukum dan Tata Cara Niat Puasa Ramadan serta Solusi Jika Lupa Berniat

H. M. Thariq Kasuba, LC,. M.A
H. M. Thariq Kasuba, LC,. M.A
  1. Apakah perlu Melafalkannya (Lisan)?: Melafalkan niat:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Nawaitu shauma ghadin.....)

​"Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta'ala."

Hukumnya adalah sunnah menurut mayoritas ulama (seperti Mazhab Syafii). Tujuannya adalah untuk membantu hati agar lebih mantap dan fokus pada ibadah yang akan dilakukan.

  1. Kapan waktu niat puasa ramadhan?

Untuk Mazhab Syafii (yang umum dianut di Indonesia), niat puasa wajib seperti Ramadhan harus dilakukan setiap malam (sejak Maghrib sampai sebelum terbit fajar). Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW:

​"مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ"

​"Barangsiapa yang tidak bermalam niat puasanya sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa'i)

Namun saran ustadz dari awal ramadhan sudah diniatkan puasa ramadhan sebulan Penuh Sebagai antisipasi jika suatu saat terlupa, dan berniat untuk satu bulan penuh di malam pertama Ramadhan adalah sunnah dalam pendapat mazhab maliki, berikut lafadz niatnya:

​نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ كُلِّهِ لِلّٰهِ تَعَالَى

​"Aku niat berpuasa di bulan Ramadhan sebulan penuh karena Allah Ta'ala."

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...