Berislam Makan Biaya

Kenaikan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh kebutuhan fisiologis, melainkan oleh pola sosial berbuka bersama, tradisi menyediakan hidangan lebih banyak, serta persiapan perayaan Idulfitri.
Dalam kajian yang lebih luas, Haris dkk. (2025) menyebut Ramadan sebagai periode “economic vibrancy”, yakni momen di mana aktivitas ekonomi masyarakat Muslim mengalami intensifikasi.
Konsumsi tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga sebagai ekspresi partisipasi sosial dan identitas religius.
Sejalan dengan hal diatas, peningkatan konsumsi selama Ramadan bukan sekadar asumsi moral atau kritik normatif. Ia tercatat dalam survei dan penelitian empiris. Ramadan berfungsi ganda: sebagai ruang spiritual sekaligus siklus ekonomi tahunan.
Di sinilah letak paradoksnya. Siang hari kita berlatih menahan diri, sore hari kita terlibat dalam perlombaan konsumsi. Kita berbicara tentang empati terhadap yang kekurangan, tetapi tidak selalu merefleksikan apakah pola konsumsi kita justru memperlebar jarak sosial.
Tentu tidak semua konsumsi salah. Masalahnya bukan pada tindakan membeli itu sendiri, melainkan pada logika yang mendasarinya. Jika konsumsi didorong oleh hasrat tanpa batas dan tekanan simbolik, maka puasa sebagai latihan pengendalian diri menghadapi tantangan serius.
Yang perlu disadari, ini bukan semata soal kelemahan individu. Struktur sosial dan budaya konsumsi memang membentuk preferensi dan pilihan kita.
Dalam sistem yang terus mendorong ekspresi diri melalui kepemilikan, menahan diri menjadi tindakan yang tidak populer. Bahkan bisa terasa aneh.
Di sinilah Ramadan diuji. Apakah ia akan mengikuti arus besar itu, atau justru menjadi ruang koreksi terhadapnya? (*)




Komentar