Berislam Makan Biaya

Ramadan Masuk ke Logika Pasar
Persoalannya menjadi lebih rumit ketika puasa dijalankan di dalam sistem sosial yang justru bekerja dengan cara sebaliknya. Kita hidup dalam ekonomi yang tidak sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi memproduksi keinginan.
Pasar tidak menunggu orang merasa perlu; ia menciptakan rasa kurang agar orang terus merasa perlu.
Ramadan, dalam konteks ini, bukan ruang yang steril. Ia juga menjadi momentum ekonomi.
Promosi bertema religius bermunculan. Paket berbuka, hampers eksklusif, busana muslim edisi khusus, hingga dekorasi rumah bernuansa islami menjadi bagian dari lanskap sosial setiap tahun. Simbol-simbol spiritual masuk ke dalam mekanisme komersial tanpa banyak perlawanan.
Fenomena ini bukan sekadar kesan subjektif. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga memang meningkat selama Ramadan.
Studi Anita, Rasyid, dan Fahrika (2025) menemukan bahwa terjadi kenaikan signifikan dalam pengeluaran masyarakat Muslim selama bulan puasa, baik untuk kebutuhan pokok seperti bahan makanan maupun kebutuhan sekunder seperti pakaian dan perlengkapan hari raya.
Menariknya, peningkatan ini terjadi meskipun pendapatan responden relatif tetap. Artinya, Ramadan tidak hanya mengubah ritme ibadah, tetapi juga ritme belanja.
Penelitian lain oleh Habriyanto (2019) menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi makanan dan minuman selama Ramadan bisa meningkat antara 41% hingga mendekati dua kali lipat dibandingkan hari biasa.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar