Dari Viral ke Krisis: Tantangan Marketing Modern

M. Galu Aditya

Hal ini merupakan hal yang jauh lebih penting dibanding menjadi perusahaan yang viral namun citra yang tidak dapat bertahan.

Mengelola risiko budaya pembatalan menjadi hal penting dalam memperkuat strategi pemasaran perusahaan Indonesia di era digital yang sangat responsif dan bergantung pada opini masyarakat.

Perusahaan kini tidak hanya berisiko mengalami kegagalan produk, tetapi juga menghadapi ancaman terhadap reputasinya yang bisa muncul dari satu konten, satu pernyataan, atau satu kerja sama yang dianggap tidak tepat oleh masyarakat.

Oleh karena itu, strategi pemasaran perlu diintegrasikan dengan manajemen risiko yaitu melakukan social listening secara aktif, menganalisis masyarakat sebelum kampanye diluncurkan, serta mengevaluasi nilai-nilai sosial dan budaya yang sedang berkembang di Indonesia.

Selain itu, perusahaan juga harus memiliki cara berkomunikasi yang cepat, jujur, dan penuh empati untuk mengurangi dampak negatif yang muncul di media sosial.

Dengan cara yang mencegah dan merespons secara terorganisasi, risiko cancel culture tidak hanya bisa dikurangi, tetapi dapat dijadikan kesempatan untuk menunjukkan tanggung jawab dan komitmen etis perusahaan, sehingga kepercayaan pelanggan justru menjadi lebih kuat.

Karena, dalam bisnis terkadang bukan promosi besar yang diinginkan masyarakat, tetapi nilai yang selalu ditawarkan oleh perusahaan. (*)

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...