Dari Viral ke Krisis: Tantangan Marketing Modern

M. Galu Aditya

Dari kasus ini banyak brand yang telah terikat kontrak harus melepas diri agar tetap menjaga nama baik perusahaan, hal ini disebabkan perusahaan tak berani untuk mnengambil resiko menghadapi banyaknya reaksi negatif yang akan datang terus menerus bagi brand yang tetap menggunakan influencer yang telah diboycot.

Meskipun, penerapan canccel culture di Indonesia tidak seburuk negara Korea Selatan. Namun, adanya reaksi buruk yang akan terus ada menyebabkan nilai jual brand bahkan perusahaan akan tertutupi dengan citra baru yang akan dibawakan.

Bahkan dalam beberapa kasus perusahaan harus berhati-hati dalam menggunakan isu sosial dan budaya dalam aspek promosi, karena banyaknya permasalahan cancel culture yang hadir dari ketidaksesuaian ekspektasi masyarakat terhadap hasil promosi.

Contohnya H&M yang mencoba mengangkat isu sosial dalam kampanyenya yang menampilkan seorang anak kecil berkulit hitam yang justru berbalik menjadi kecaman masyarakat.

Karena, dianggap sebagai hal yang rasis. Adapun cancel culture besar yang dialami rumah produkdi film “A Business Proposal” remake Indonesia akibat ketidaksesuai pemilihan pemeran, dan proses promosi yang dianggap menyinggung.

Perkembangan media sosial tentu akan membawa kemudahan terutama dalam hal menguatkan strategi marketing bagi perusahaan. Namun, perusahaan harus tetap mengatasi resiko yang ada dengan tetap mengandalkan nilai jual agar tetap stabil meskipun dalam kondisi kritis.

Beberapa perusahaan justru tak mementingkan iklan secara massif tapi fokus pada pengembangan dan inovasi produk, berkaca dari Khong Guan yang tak pernah hilang dari pasar akibat citra perusahaan yang baik.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...