Sampah dan Penjilat

Mereka sering dianggap tidak jujur dan tidak dapat dipercaya karena sikapnya yang memuji tanpa mempertimbangkan kebenaran atau keadilan.
Fenomena ini bukan hal baru. Dalam sejarah Yunani Kuno dikenal istilah “sycophants”, yang merujuk pada orang-orang yang memuji atau menjilat demi keuntungan pribadi.
Di Tiongkok, terdapat istilah “xiehouyu” yang dalam konteks tertentu digunakan untuk menggambarkan ungkapan atau perilaku yang bersifat menyindir atau bermakna tersembunyi, termasuk dalam praktik-praktik menjilat demi kepentingan tertentu.
Budaya menjilat masih dijalankan oleh sebagian orang karena beberapa faktor, antara lain: Kurangnya keberanian, sehingga seseorang lebih memilih menjilat daripada mempertahankan pendapat atau prinsip yang diyakini.
Kedua, kurangnya integritas, yang membuat individu lebih mengutamakan keuntungan pribadi dibandingkan nilai kebenaran.
Ketiga, kurangnya rasa tanggung jawab, sehingga seseorang cenderung mencari aman melalui pujian daripada bertanggung jawab atas keputusan dan tindakannya.
Soo, mana yang lebih kotor dari sampah dan penjilat.? Sampah bagi seorang seniman bisa diubah menjadi barang mahal bahkan bermanfaat. Tidak dengan penjilat, ia akan hidup di antara bayang-bayang yang menghantui, diantara nurani yang kehilangan nilai, diantara kenyataan yang menyembunyikan kebenaran.




Komentar