Sampah dan Penjilat

Dari perspektif interaksionisme simbolik, fenomena penjilat merupakan proses sosial yang melibatkan pemaknaan simbol, peran sosial, dan manajemen impresi. Penjilat berusaha menampilkan citra tertentu di hadapan pihak yang berkuasa dengan harapan memperoleh keuntungan atau pengakuan.
Proses ini berlangsung melalui interpretasi simbol, peran yang dimainkan dalam interaksi, serta upaya menjaga kesan yang menguntungkan.
“Buang sampah sembarangan” adalah istilah yang patut dilekatkan pada penjilat. Mengapa? Karena orang-orang seperti ini seakan tidak lagi memiliki rasa malu.
Dalam istilah ilmiah, mereka kerap disebut oportunis. Mereka tidak mudah “mati” oleh kritik, justru melalui kritik itulah mereka sering kali tetap bertahan dan bahkan semakin eksis.
“Sampah adalah penjilat dan penjilat adalah sampah.” Kalimat ini mungkin terdengar kasar, tetapi begitulah bahasa yang kerap dilekatkan kepada mereka yang terus-menerus “membuang sampah sembarangan”—tanpa malu dan tanpa kesadaran, seolah-olah menjadi penjilat adalah sesuatu yang wajar dan tidak bermasalah.
Bagaimanapun, penjilat memiliki sejarah yang panjang. Ia hadir di setiap zaman yang terus berubah, dengan bentuk yang berbeda-beda tetapi tujuan yang sama, tetap menjilat demi kepentingan.
Lebih jauh, Dr. Harry Patria mengungkapkan bahwa penjilat dapat merusak integritas dan budaya organisasi. Penjilat adalah individu yang dengan sengaja dan terus-menerus memuja atau mengakui orang lain demi memperoleh keuntungan pribadi.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar