Mengapa Pendidikan Awal bukan Hanya Urusan Ibu?
Froebel dan Peran Ayah:

Dalam konteks ini, membaca ulang Froebel bukan sekadar latihan akademik. Ia adalah gagasan bahkan tuntutan moral bagi para ayah untuk mengambil kembali peran yang selama ini secara tidak sadar mereka serahkan kepada sistem dan budaya.
Gagasan Froebel ini tidak akan memberi dampak nyata jika hanya berhenti pada level wacana filosofis. Ia perlu diimplementasikan ke dalam kebijakan konkret dan perubahan praktis di berbagai lapisan masyarakat.
Pada level negara, Indonesia sudah saatnya merumuskan kebijakan paternity leave yang substansial, bukan dua atau tiga hari melainkan setidaknya dua hingga empat minggu yang dibayaw penuh dan dilindungi secara hukum di seluruh sektor pekerjaan.
Kebijakan ini bukan kemewahan; ia adalah investasi jangka panjang dalam kualitas sumber daya manusia yang dimulai dari hari-hari pertama kehidupan anak.
Pada level lembaga pendidikan anak usia dini, perlu secara aktif merancang program keterlibatan orang tua yang secara eksplisit mengajak ayah bukan hhanya ibu untuk terlibat.
Sesi bermain bersama orang tua, workshop parenting yang dijadwalkan diluar jam kerja, adalah langkah-langkah kecil yang berdampak simbolis besar.
Pada level masyarakat dan budaya, perlu ada narasi baru tentang maskulinitas yang memasukkan keterlibatan dalam pengasuhan sebagai salah satu ukuran laki-laki yang bertanggung jawab dan terhormat.
Kampanye sosial, konten media, program keagamaan, dan tokoh-tokoh publik secara terbuka menampilkan keterlibatan mereka dalam pengasuhan anak dapat menjadi katalis perubahan norma yang jauh lebih kuat dibanding regulasi sekalipun.
Dan pada level individual, setiap ayah yang membaca tulisan ini perlu mengajukan pertanyaan yang sederhana namun berat bahwa; sudahkah saya hadir bukan hanya dalam kehidupan anak saya? (*)




Komentar