Mengapa Pendidikan Awal bukan Hanya Urusan Ibu?
Froebel dan Peran Ayah:

Hal tersebut persis yang dimaksud Froebel dalam konsep (Spielgabei) atau hadiah bermain sebagai modus utama anak dalam memahami dunia.
Froebel memandang bermain bukan sebagai aktivitas sepele pengisi waktu luang, melainkan sebagai kerja serius anak yang ahrus difasilitasi oleh orang dewasa yang ahdir sepenuhnya. Dan “hadir sepenuhnya” dalam pandangan Froebel, tidak mengenal batas gender.
Mengapa Ayah Indonesia Absen: Menelusuri Akar Masalahnya
Sebelum membahas solusi, kita perlu jujur dalam membaca penyebabnya. Ketidakhadiran ayah dalam pendidikan awal anak di Indonesia bukan semata-mata persoalan kemauan individual. Ia adalah produk dari sistem yang kompleks dan berlapis.
Pertama, tekanan ekonomi struktural. Struktur ketenagakerjaan Indonesia masih menempatan laki-laki sebagai pencari nafkah utama (breadwinner) dengan ekspektasi jam kerja yang panjang.
Bagi banyak keluarga, terutama di kelas menengah ke abwah, ayah yang menghabiskan wakti bermain dengan anak di siang ahri adalah kemewahan yang tidak terjangkau, bukan pilihan moral. Menyalahkan ayah-ayah ini tanpa memperyimbangkan konteks ekonomi adalah kesalahan analisis yang fatal.
Kedua, konstruksi maskulinitas yang sempit. Di banyak komunitas di Indonesia, definisi “laki-laki yang baik” masih sangat terbatas pada kemampuan ekonomi: ia bisa menafkahi keluarganya.
Keterlibatan dalam urusan pengasuhan anak, misalnya menggendong bayi, menemani anak bermain, membacakan cerita sebelum tidur sering tidak masuk dalam daftar kualitas laki-laki yang dianggap terhormat.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar