Mengapa Pendidikan Awal bukan Hanya Urusan Ibu?
Froebel dan Peran Ayah:

Ketika Kindergarten Menjadi "Wilayah Ibu"
Ironi besar dalam sejarah pendidikan terjadi ketika konsep kindergarten yang digagas oleh Froebel dengan semangat inklusif justru bertransformasi menjadi institusi yang secara kultural sangat feminin.
Proses transformasi ini tidak terjadi dalam semalam. Ia berlangsung secara bertahap melalui interaksi antara ideologi gender abad ke-19 dan gerakan perempuan progresif yang paradoksnya justru memperkuat asosiasi antara pengasuhan anak dan perempuan.
Di Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat, para penggiat kingdergarten pertama hampir semuanya adalah perempuan terdidik yang melihat ruang ini sebagai perpanjjangan alami dari “panggilan ibu.” Mereka memperjuangkan kindergarten dengan bersandar pada argumen bahwa perempuan secara alami lebih cocok untuk mendidik anak-anak kecil.
Meskipun perjuangan mereka memiliki makna penting dalam konteks emansipasi perempuan, konsekuensinya adalah kelembagaan asosiasi antara pendidikan anak usia dini dan feminis. Laki-laki khususnya ayah secara perlahan terpinggirkan dari narasi tersebut.
Warisan perkumpulan inilah yang kita terima hingga hari ini, termasuk di Indonesia. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang dipengaruhi oleh nilai-nilai patriarkal sekaligus konstruksi gender yang menempatkan ibu sebagai “pengasuh utama,” ketidakhadiran ayah dalam pendidikan awal anak nyaris tidak pernah dipandang sebagai masalah.
Ia dianggap normal, bahkan dianggap sebagai penanda peran laki-laki yang bertanggung jawab “pergi bekerja untuk keluarganya.”
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar