Mengapa Pendidikan Awal bukan Hanya Urusan Ibu?

Froebel dan Peran Ayah:

Sriyanti Nihi

Oleh: Sriyanti Nihi
(Mahasiswi Magister Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Setiap pagi di pintu-pintu utama Taman Kanak-Kanak (TK) seluruh Indonesia, pemandangan yang sama terus berulang dari generasi ke generasi berikutnya; seorang ibu mengantarkan anaknya, memeluknya sejenak, lalu melambaikan tangan dengan ekspresi campuran antara sayang dan berat hati.

Ayah? Kemungkinan besar sudah berangkat lebih pagi atau memang tidak pernah masuk dalam “jadwal” pengantaran tersebut.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Sabtu, 21 Februari 2026

Kita telah begitu terbiasa menerima pembagian peran ini sebagai sesuatu yang wajar, bahkan dianggap sebagai tatanan yang alami. Ibu mengurus anak, ayah mencari nafkah.

Namun jauh sebelum dunia akademik modern mulai berdebat tentang konsep fatherhood, keterlibatan ayag (paternal involvementi), dan kesetaraan gender dalam pengasuhan.

Seorang pedagog visioner dari Jerman bernama Friedrich Froebel (1782-1852) telah menanamkan gagasan yang justru melampaui zamannya; bahwa pendidikan anak yang paling awal dan paling mendasar bukan hanya tanggung jawab seorang perempuan. Pendidikan itu adalah tanggung jawab manusia secara kolektif, tanpa memandang jenis kelamin.

Tulisan ini berusaha membaca ulang pemikiran Froebel dari sudut pandang yang jarang disentuh dalam diskursus pendidikan anak usia dini di Indoensia: peran ayah.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Komentar

Loading...