Hikmah Ramadan

Ramadan dan Fungsi Pengawasan

M. Iqbal Ruray

Karena memang itulah tugas yang diamanahkan kepadanya. Ia menyampaikan pendapat yang jujur bukan karena mau cari aman secara politik, namun karena rakyat berhak mendengar kebenaran.

Ramadan adalah undangan untuk memeriksa ulang fondasi ini secara jujur: apakah integritas sebagai pengemban amanah publik benar-benar berdiri tegak di atas nilai, ataukah hanya tampak tegak ketika ada sorotan? Jawabannya hanya kita dan Tuhan yang tahu, persis seperti puasa.

Menahan Diri

Salah satu pelajaran penting dari sekolah Ramadan adalah menahan diri. Puasa mengajarkan nilai utama berupa pengendalian diri (self-restraint), yang sangat relevan bagi pejabat publik, termasuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Dalam menjalankan amanah rakyat, kemampuan menahan diri dari godaan kekuasaan, kepentingan pribadi, dan penyalahgunaan wewenang merupakan fondasi integritas. Puasa melatih kejujuran karena esensinya adalah ibadah yang diawasi langsung oleh yang maha kuasa, bukan oleh manusia.

Nilai ini seharusnya tercermin dalam transparansi, akuntabilitas, dan komitmen terhadap kepentingan masyarakat luas di atas kepentingan golongan. Dalam konteks kehidupan bernegara dan berpolitik, nilai menahan diri ini sangat dalam maknanya.

Dalam mendesain kebijakan atau dalam pengawasan kebijakan yang baik membutuhkan kemampuan menahan diri dari berbagai godaan yang nyata: menahan diri dari kepentingan jangka pendek yang mengaburkan kepentingan jangka panjang rakyat, menahan diri dari kenyamanan diam ketika seharusnya bersuara.

Inilah paradoks yang paling menantang dalam pengawasan kebijakan publik: membutuhkan keberanian untuk berbicara, sekaligus kebijaksanaan untuk tidak asal berbicara.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...