Hikmah Ramadan

Ramadan dan Fungsi Pengawasan

M. Iqbal Ruray

Termasuk bagi lembaga legislatif, DPRD, yang mengemban amanah dan melakukan fungsi pengawasan kebijakan publik, hikmah Ramadan 1447 H ini, terasa sangat relevan untuk direnungkan dan lebih penting lagi, untuk diwujudkan dalam tindakan nyata.

Kejujuran dan Integritas

Hikmah yang paling mendasar dari puasa adalah melatih kejujuran yang paling murni. Kejujuran kepada diri sendiri dan kepada Tuhan, bahkan ketika tidak ada manusia yang menyaksikan.

Seorang yang berpuasa bisa saja makan dan minum secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui siapapun. Namun itu tidak dilakukannya. Inilah yang disebut sebagai ibadah sirriyah (ibadah rahasia). Bukan karena takut ketahuan, tetapi karena ada nilai yang dijaga di dalam dirinya.

Para ulama menyebutnya sebagai keistimewaan puasa dibanding ibadah lain: “Puasa untuk-Ku“ begitu kata Allah dalam sebuah hadits qudsi. Puasa adalah ibadah yang hanya diketahui oleh pelakunya dan oleh Allah, tidak ada ruang untuk pamer atau riyaa, tidak ada celah untuk berpura-pura.

Nilai inilah yang paling relevan bagi siapapun yang mengemban amanah publik. Dalam menjalankan tugas sebagai pejabat publik atau sebagai wakil rakyat, godaan untuk berlaku tidak jujur, baik dalam keputusan, dalam sikap, maupun dalam penggunaan wewenang, selalu ada dan tidak pernah benar-benar pergi.

Kamera tidak selalu menyorot. Wartawan tidak selalu hadir. Publik tidak selalu tahu apa yang terjadi di balik pintu rapat tertutup, di balik proses pengambilan keputusan yang panjang, atau di balik berbagai pertimbangan yang tidak tertulis dalam sebuah notulensi.

Seorang pejabat publik yang baik seharusnya bekerja dengan integritas, bukan karena diawasi, akan tetapi karena memang itulah yang benar untuk dilakukan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...