Jemaah Bertanya, Ustad Menjawab

Kelompok yang memakai metode ini (seperti Muhammadiyah) berpendapat bahwa teknologi astronomi saat ini sudah sangat akurat untuk menentukan posisi bulan bahkan sebelum terlihat oleh mata.
Jadi kalau begitu Mana yang "Benar"?
Secara syariat, keduanya benar selama didasari oleh metode ilmiah dan dalil yang diakui.
Dalam fikih, terdapat kaidah:
"Ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lainnya."
Artinya, satu pendapat tidak otomatis salah hanya karena ada pendapat lainyg berbeda. Yang terpenting adalah keyakinan kita dalam mengikuti salah satu otoritas (madzhab) yang kita percayai ilmunya.
Adakah petunjuk dari Nabi SAW tentang Cara Menyikapi perbedaan ini?
Saudaraku yang beriman agar tidak terjebak dalam perpecahan, hendaklah kita:
1. Menghormati Keputusan Pemimpin (Ulil Amri)
Dalam kaidah fikih disebutkan:
حُكْمُ الْحَاكِمِ يَرْفَعُ الْخِلَافَ
Hukmul Hakim yarfa’ul khilaf (Keputusan pemerintah menghilangkan perbedaan). Mengikuti penetapan pemerintah adalah langkah paling aman untuk menjaga persatuan nasional.
2. Mengutamakan Ukhuwah (Persaudaraan)
Perbedaan waktu mulai puasa adalah masalah Furu'iyah (cabang), sedangkan menjaga persatuan umat adalah Ushul (pokok). Jangan sampai karena beda hari mulai puasa ramadhan, kita justru memutus tali silaturahmi.
3. Menjalankan Keyakinan Tanpa Mencela
Jika Anda yakin pada metode Hisab, mulailah berpuasa. Jika yakin pada Rukyat hilal, mulailah sesuai hasil sidang isbat. Nabi SAW bersabda:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ
"Puasa itu adalah hari di mana kalian semua berpuasa..." (HR. Tirmidzi). Ini mengisyaratkan akan pentingnya kebersamaan dalam komunitas berbangsa dan beragama Oleh sebab itu dapat kita simpulkan perbedaan ini adalah “rahmat dan bukti kekayaan ijtihad dalam Islam” . Tidak perlu diperdebatkan hingga panas, karena yang paling penting di mata Allah SWT adalah kualitas takwa selama menjalankan ibadah tersebut.
WALLAHU A'LAM BISHAWAAB
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 19 Februari 2026



Komentar