Refleksi Hari Pers Nasional
Ketika Jurnalis Terlalu Lama Memuji

Salah satu risiko utama dari pujian yang berlebihan adalah pergeseran fungsi jurnalis. Alih-alih menjalankan peran watchdog, yaitu memantau dan mengkritisi kekuasaan, jurnalis berpotensi berubah menjadi agen legitimasi.
Narasi yang terlalu memuji menciptakan kedekatan simbolik antara jurnalis dan narasumber, sehingga jarak profesional yang seharusnya dijaga menjadi kabur.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap media karena pembaca menilai informasi yang disajikan tidak lagi independen.
Teori framing menjelaskan bahwa cara suatu isu disajikan dapat memengaruhi interpretasi audiens. Dominasi pujian dalam narasi membentuk kerangka interpretasi yang mengarahkan pembaca untuk memandang objek liputan secara positif sebelum mempertimbangkan fakta secara kritis.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan aspek estetika penulisan, tetapi juga dengan pembentukan opini publik yang berpotensi tidak seimbang.
Dalam konteks politik atau kebijakan publik, framing yang terlalu memuji dapat mempersempit ruang deliberasi rasional, karena pembaca cenderung menerima narasi tersebut sebagai representasi realitas yang menyeluruh.
Fenomena pujian berlebihan tidak dapat dilepaskan dari perubahan ekosistem media. Kompetisi memperebutkan perhatian audiens di platform digital mendorong produksi konten yang menarik secara emosional dan mudah dibagikan.
Narasi yang memuji tokoh populer atau fenomena viral kerap menghasilkan tingkat keterlibatan audiens yang tinggi. Selain itu, hubungan ekonomi antara media dan pengiklan atau sponsor turut memengaruhi nada pemberitaan.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar