Negeri yang Kaya, Daerah yang Kalah

Ironinya, kemiskinan di Maluku Utara tidak meledak. Statistik berkata, angkanya rendah dari asumsi yang rendah, garis kemiskinan yang tak layak, akibatnya terlihat dekat dengan garis kemiskinan walau sesungguhnya kemiskinan ekstrim yang ditutupi dari angka statestik.
Keluarga hidup dalam kerentanan harga barang yang melambung tinggi, yang setiap waktu terkamar dala kemiskinan dari harga yang didominasi ence.
Walau begitu tambang tak berhenti walau sebentar, mereka terus menyalakan smelter kemiskinan, ini sebuah tontonan kemiskinan yang sopan. Tidak berteriak, tidak membakar ban.
Mungkin karena itu ia jarang didengar, di kampung-kampung sekitar tambang, orang masih tertawa. Masih berbagi ikan, masih Babari menjelang Ramadhan walau Negara lalu berkata, lihat, mereka bahagia.
Seolah-olah kebahagiaan bisa menggantikan air bersih, sekolah dengan perahu, sakit taka da dokter, harga diancam gelombang, pulau tak berdermaga, hidup dalam kepasrahan, menunggu kematian.
Anak-anak kehilangan masa depan walau Indeks Kebahagian terus melambung tinggi dalam pesta rakyat yang dibuat pemda sebagai penghibur duka derita.
Kita pernah melihat cerita serupa di Bali, ketika Pariwisata Cina tumbuh pesat, wistawan cina datang penuh keramaian.
Tapi toko-toko lokal sepi, Uang berputar dalam lingkaran sendiri, yang punya agen sendiri, toko sendiri, pembayaran sendiri, semuanya dikuasai ence. Ekonominya besar, tapi bocor. Bali protes. Maluku Utara belum.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar