Negeri yang Kaya, Daerah yang Kalah

Dr. Mukhtar Adam

Oleh: Mukhtar Adam
(Akademisi Unkhair)

Di laut Halmahera, kapal-kapal berangkat setiap hari, berlayar menuju pacific, dengan muatan nikel, besi, baja, untuk logam masa depan. Angkanya fantastis, ratusan triliun rupiah.

Tapi aneh, di gugus pulau, pemerintah daerah tetap menghitung anggaran dengan jari gemetar, pegawai dipangkas TTP, dipulau layanan mublik tak tersedia, dari APBD kecil. Jalan berlubang, Sekolah kekurangan guru, puskemas tanpa dokter, pulau tampa dermaga, Lingkungan terkelupas.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Jumat, 6 Februari 2026

Mungkin kita keliru menyebut ini “kemajuan”.

Orang-orang tua di Kie Raha punya ungkapan lama: “Ence mana yang mau rugi.” Dulu itu sindiran ringan. Kini ia menjelma menjadi struktur.

Bukan lagi soal orang per orang, tapi tentang cara kerja kuasa. Tentang siapa yang menentukan harga, kontrak, jalur logistik, dan ke mana untung mengalir.

Cina datang bukan dengan meriam, tapi dengan offtaker, Bukan dengan pasukan, tapi dengan smelter. Bukan dengan penjajahan klasik, melainkan dengan kontrak panjang dan rantai nilai tertutup. Ini bukan invasi. Ini ekonomi yang patuh pada dirinya sendiri.

Moloku Kie Raha menyuplai tanahnya, airnya, hutannya, dan tenaganya. Sebagai imbalan, daerah mendapat debu. Negara pusat mendapat pajak.

Pasar global mendapat logam murah. Masyarakat lokal mendapat pekerjaan buruh kasar yang sebentar di PHK atau digilas mesin, lalu derita selamanya.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...