Sikap Sekda Haltim dan Teladan Kehati-hatian Negara di Hadapan Risiko Tambang

Asmar Hi. Daud

Prinsip ini penting, terutama di daerah kepulauan dengan topografi sensitif dan infrastruktur jalan yang sering menjadi satu satunya akses warga. Lebih dari itu, sikap ini mengirimkan pesan penting bagi praktik investasi.

Aktivitas ekstraktif tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan ruang hidup bersama, jalan umum, permukiman, dan mobilitas harian masyarakat. Ketika risiko ekologis mulai mengganggu fungsi ruang publik, negara berkewajiban melakukan koreksi arah.

Koreksi sementara melalui penghentian terbatas memberi ruang bagi perbaikan teknis, penguatan pengelolaan lingkungan, dan pemulihan kepercayaan publik.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, investasi yang sehat adalah investasi yang mampu beradaptasi terhadap peringatan dini.

Evaluasi, perbaikan lereng, penguatan drainase, serta pengelolaan material buangan merupakan langkah yang dapat ditempuh tanpa mengorbankan keselamatan.

Dari sudut pandang kepastian usaha jangka panjang, respons cepat terhadap risiko membantu mencegah konflik, kecelakaan, dan biaya sosial yang lebih besar di kemudian hari.

Sikap Sekda Haltim juga penting sebagai contoh kepemimpinan daerah di tengah kompleksitas relasi pusat dan daerah. Ketika kewenangan tersebar, keberanian administratif untuk menarik rem darurat menjadi krusial.

Negara hadir melalui respons tepat waktu yang memprioritaskan nyawa dan rasa aman warga. Ukuran keberhasilan pembangunan tidak hanya tercermin dari angka investasi atau produksi, tetapi dari kemampuan negara menjaga keselamatan publik dan kualitas ruang hidup.

Kehati hatian bukan penghambat pembangunan. Ia adalah prasyarat agar pembangunan memiliki legitimasi sosial dan daya tahan jangka panjang. Dalam hal ini, sikap yang diambil Sekda Haltim patut dijadikan rujukan bagi daerah lain yang menghadapi risiko serupa. (*)

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...